Puisi Sunyi Malam - Puisi Sunyi

Puisi Sunyi Malam - Puisi - Puisi Sunyi - kumpulan Puisi Sunyi Malam - Kumpulan Puisi Sunyi

Atas Nama Malam
Aku pun mengerung ketika dalam perutku
tak ada sumur tapi ku temukan ikan-ikan mati terkapar
di bagian usus halusku

lalu deret gunungan yan siap mengencingi bumi
mengkiblatkan dirinya ke batas garis empedu
akuu pun mulai menenggak arak
pelepas dahaga yang panjang
dimana Tuhan meemukanku dalam keadaan kerdil
pada sum-sum kelabu aku liarkan sajakku
setubuhi malam gusar

2003. Oleh: Bude Riswandi.
Mahasiswa UNSIL Tasikmalaya.
Fk.Bahasa dan Sastra Indonesia

Kehilanganmu
Tak ada lagi yang dapat kuu ucap selain merindumu
kau yang sangat berarti dalam hidupku
walau kini kau telah pergi, hilang, dan sirna dalam dekapku
ku bingkai harapan tuk kekembalianmu
gak ada yang salah aku lah yang bodoh
Bukan muna, di balik kebencian ini aku merindukanmu
membutuhkanmu, mengharap kembali kasih sayang yang pernah hilang

Disini yang kesekian kalinya aku mencintaimu
bertahun-tahun terpendam
ku simpan dalam-dalam dirimu
pernah ku coba alihkan mata hatiku
tapi tak bisa, karena yang pertama kali mengisi ruang hati
karena kau cinta pertamaku
walau terpendam dan tak tersampaikan

20/10/2005. Di tulis kembali di pangandaran, 14/11/2011.
Oleh: Iman Zenit


Sesuatu Yang Tertunda
Kala dusta merajai diri
dan hati terluka karena diri
menangis tak henti-henti
kala cinta hanya dalam cerita
hati hanya bisa berhayal
jasad tersiksa karena ulah dusta

hingga saat hati berharap
tak ada yang dusta dalam diri
dan mengangkat kembali rasa yang tertunda
dan diri dengan jujur mengungkapkannya pada pujaan hati
dan terlahirlah cinta di atas kejujuran diri
yang abadi dan sejati tanpa dusta ataupun kedustaan dalam diri

Dirimu Didiriku
Selalu saja terlukis jelas di hadapku, yakni dirimu
yang ku rindu, yang ku sayang selalu
dirimu hadir di hadapku dan pergi dalam dekapanku
tiada secuil benda pun yang dapat ku kenang dari dirimu
namun tatap mata terakhirmu menyiratkanku
yang selalu ku bawa tidur sampai terbangun kembali di pagiku

Ku injakan kembali kakiku
langkahku yang hampa tanpa dekapanmu
dan tanpa kasih sayang darimu
kau sangat berarti dalam hidupku
aku tak mungkin bila tanpamu

Di tulis kembali di Pangandaran
14/11/2011. Oleh: Iman Zenit