Virtual Influencer: Pengertian, Cara Kerja, dan Masa Depan Marketing di Era Digital
Virtual Influencer: Pengertian, Cara Kerja, dan Masa Depan Marketing di Era Digital
Anda mungkin pernah melihat gambar model dengan style kekinian dan aesthetic yang sempurna di Instagram. Namun, jika dilihat lebih dekat, ada sesuatu yang "tidak biasa" — mereka bukan manusia sungguhan. Mereka adalah Virtual Influencer, avatar digital yang sedang mengubah landscape pemasaran dan hiburan secara global.
Tahun 2024, kehadiran mereka semakin nyata. Mereka berkolaborasi dengan brand luxury seperti Dior dan Prada, merilis single musik, dan memiliki jutaan followers yang loyal. Lalu, apa sebenarnya virtual influencer itu? Mengapa brand besar rela menginvestasikan uang yang tidak sedikit untuk bekerja sama dengan karakter yang bahkan tidak nyata?
Dalam artikel ini, kita akan membongkar semua yang perlu Anda ketahui tentang fenomena virtual influencer; dari pengertian, cara kerja, hingga strategi masa depannya.
Apa Itu Virtual Influencer?
Virtual Influencer adalah karakter digital yang dibuat menggunakan teknologi computer-generated imagery (CGI) dan seringkali ditenagai oleh Artificial Intelligence (AI). Mereka didesain untuk meniru kehidupan manusia; memiliki kepribadian, cerita latar belakang, selera fashion, dan bahkan "kehidupan sehari-hari" yang diposting di berbagai platform media sosial, terutama Instagram dan TikTok.
Berbeda dengan animasi biasa, virtual influencer diciptakan untuk menjadi "influencer" dalam arti yang sebenarnya. Tujuan utama mereka adalah membangun audiens dan melakukan endorsemen produk, persis seperti influencer manusia pada umumnya.
Cara Kerja dan Siapa yang Menciptakan Mereka?
Di balik setiap virtual influencer yang tampak "hidup", ada sebuah tim yang terdiri dari:
Concept Artists: yang mendesain karakter dan kepribadiannya.
3D Modelers dan Animators: yang membangun model 3D dan menggerakkannya.
Writers dan Social Media Managers: yang menulis caption dan mengelola narasi cerita.
AI Engineers: (untuk yang lebih canggih) yang mengembangkan kemampuan AI untuk berinteraksi dengan pengikut.
Mereka memposting konten yang telah direncanakan dan diproduksi secara digital. Mulai dari foto "dirinya" di lokasi eksotis hingga video pendek yang disimulasikan.
Contoh Virtual Influencer Terkenal di Dunia
Lil Miquela (@lilmiquela): Perintis sekaligus yang paling terkenal. Memiliki 2.5 juta follower di Instagram. Ia pernah "berkolaborasi" dengan Bella Hadid (manusia sungguhan) dan bekerja sama dengan brand seperti Calvin Klein.
Imma Gram (@imma.gram): Virtual influencer asal Jepang dengan gaya khas rambut pink bob-nya. Ia sering mempromosikan fashion dan lifestyle Jepang.
Noonoouri (@noonoouri): Karakter dengan tubuh mungil dan kepala besar yang sering berkolaborasi dengan maison mode luxury seperti Versace dan Valentino.
Keunggulan Virtual Influencer dibanding Influencer Manusia
Mengapa brand lebih memilih avatar digital? Berikut keuntungannya:
Kontrol Penuh 100%: Brand memiliki kendali penuh atas citra, perkataan, dan tindakan sang influencer. Tidak ada risiko skandal atau kontroversi pribadi.
Tidak Terbatas Fisik dan Waktu: Mereka bisa "berada" di Paris di pagi hari dan Tokyo di malam hari tanpa terbatas jarak dan waktu. Mereka juga tidak pernah menua.
Konsistensi dan Keterprediksian: Konten dan engagement dapat dijadwalkan dan diprediksi dengan lebih mudah, sesuai dengan kalender marketing brand.
Kreativitas Tanpa Batas: Memungkinkan penciptaan konten yang fantastis dan surreal yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia.
Tantangan dan Kritik yang Dihadapi
Meski menjanjikan, kehadiran virtual influencer juga menuai kritik:
Ketidakotentikan: Banyak yang berargumen bahwa mereka tidak memiliki "authenticity" yang justru menjadi daya tarik utama influencer manusia.
Permasalahan Etika: Penggunaan wajah dan tubuh yang "tidak realistis" dapat memperkuat standar kecantikan yang tidak sehat.
Penipuan: Audiens yang tidak menyadari bisa tertipu dan mengira mereka adalah manusia sungguhan.
Masa Depan Virtual Influencer dan AI
Dengan kemajuan AI, masa depan virtual influencer akan semakin menarik. Kita akan melihat:
Interaktivitas: Kemampuan untuk melakukan live chat secara real-time dengan pengikutnya menggunakan AI.
Hyper-Personalization: Kemampuan untuk menciptakan influencer virtual lokal untuk target pasar yang spesifik.
Metaverse Integration: Mereka akan menjadi pemandu dan wajah utama dalam dunia virtual dan metaverse.
Kesimpulan
Virtual influencer bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan evolusi nyata dari dunia marketing dan konten digital. Mereka menawarkan blend yang unik antara kreativitas, teknologi, dan kontrol brand yang tidak dapat ditawarkan oleh influencer konvensional.
Meskipun tantangan seperti authenticity dan etika masih menjadi perdebatan, satu hal yang pasti: kehadiran mereka akan semakin massive. Bagi para marketer dan content creator, memahami fenomena ini adalah langkah penting untuk menyambut masa depan digital yang semakin tanpa batas.
Apa pendapat Anda? Apakah Anda siap menyambut era di mana influencer favorit Anda mungkin bukan manusia? Bagikan pemikiran Anda di kolom komentar below!
Virtual Influencer, Digital Marketing, AI, Social Media Trend, Teknologi, CGI, Influencer Marketing, Metaverse, Content Creation